Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang
punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa
dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer
hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal
banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak
cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer
laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto
dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi
kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang
keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih.
Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.
Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya
Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1
dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih
tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan
spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini
berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe.
Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD
1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat
merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1
jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya. Catatan : kami juga
menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor
CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.
Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).
Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat
Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20
dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072
x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst
DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan
kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps
untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera
ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.
Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.
Fuji
memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji
kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik
saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan
dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki
kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa
diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka
kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan
namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik
lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur
stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info
tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4
baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga
dibawah tiga juta saja.
Mengapa kamera prosumer?
Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.Apa kekurangan kamera prosumer?
Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :- Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
- Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
- Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
- Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.
Rekomendasi kami
Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.
Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya
Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).
Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat
Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.
Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap
Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah
ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang
cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).
Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie
Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.
Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom
Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.
Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom
Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.
Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax
Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.
Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR
Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.
Kesimpulan
Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.
Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :
- Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
- Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
- Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
- Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
- Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori camera /
canon /
casio /
fujifilm /
kodak /
lumix /
nikon /
pentax /
sony
dengan judul Delapan kamera prosumer super zoom baru. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://ridsabs.blogspot.com/2013/02/delapan-kamera-prosumer-super-zoom-baru.html. Terima kasih!
Ditulis oleh:
Unknown - Monday, February 25, 2013
Belum ada komentar untuk "Delapan kamera prosumer super zoom baru"
Post a Comment