Kamera digital
prosumer identik dengan kamera serius yang
punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa
dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera
prosumer
hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal
banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak
cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera
prosumer
laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto
dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi
kamera
prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang
keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih.
Salah satu cara
prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera
prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.
Mengapa kamera prosumer?
Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera
prosumer
menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi
sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di
alam terbuka. Bahkan kemampuan
prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam
High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak
prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan
prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa di
bouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa
prosumer
yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari
keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak
praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala
noise
dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai
file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan
bobot
prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat
prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.
Apa kekurangan kamera prosumer?
Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera
prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera
prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :
- Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
- Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
- Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
- Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.
Rekomendasi kami
Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera
prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera
prosumer super
zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian
singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad.
Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.
Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada
Powershot SX1
dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih
tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan
spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini
berukuran 2,8 inci
widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan
flash hotshoe.
Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD
1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat
merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1
jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya. Catatan : kami juga
menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor
CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.
Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat
pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang
membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan
kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).
Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

Bayangkan kecepatan
burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10
frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera
prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera
Exilim FH-20
dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072
x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan
burst
DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan
kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps
untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera
ponsel), file RAW format,
image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.
Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan
kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera
kelas
prosumer lainnya.
Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

Fuji
memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji
kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik
saja. Namun kami sengaja pilihkan
Fuji S1500 ini dengan
dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki
kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa
diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka
kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan
namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik
lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur
stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info
tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4
baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga
dibawah tiga juta saja.
Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah
ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang
cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).
Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

Kodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas
prosumer,
mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti
biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider
untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan
Kodak Z1015IS,
kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan
resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan
diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah
dilengkapi dengan fitur stabilizer optik, RAW file format dan HD movie
30 fps.
Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak
sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan
bukaan maksimal f/3.5 saja.
Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera
prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama
Lumix FZ28
yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam
rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom
optik, serta memakai
Venus 4 engine yang lebih bertenaga.
Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas,
pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya
yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan
merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya
fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan.
Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara
kamera dengan zoom lensa sejenis.
Kekurangan Lumix secara umum adalah
noisenya yang tampak
lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail
lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak
tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat
built-in di kamera.
Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu
Coolpix P90 yang
membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan
berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang,
terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna
memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata
letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer
pada sensornya.
Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum
memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini,
belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu
kilat pada kamera ini membuat
upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.
Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

Persaingan
panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax
yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan
Pentax X70.
Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis
sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor
12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung
movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan
sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.
Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan
lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru
semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.
Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

Tibalah kita di produk terakhir yaitu
Sony DSC-HX1 yang
mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1
dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom
20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian
6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan
7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci,
sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie
1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).
Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi
dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file
format, tapi begitulah kenyataannya.
Kesimpulan

Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini
kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana
yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari
kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada
Olympus SP-590
dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan
resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang
kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi
kali ini.
Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :
- Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS
seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS
mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang
juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera
jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
- Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom
yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x,
15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama
memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa
yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
- Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor
kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP
sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas
fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau
perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR.
Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan
diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10
MP.
- Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika
memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan
dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi
dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW
file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW
file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda
beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya
Canon SX1 yang memilikinya.
- Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini.
Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1
dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD
movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji
S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan
HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga
gambar video akan tampak patah-patah.
Itulah daftar kamera
prosumer yang bisa kami rekomendasikan
untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum
bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..