Showing posts with label nikon. Show all posts
Showing posts with label nikon. Show all posts

Kumpulan Review Nikon D5200


Kumpulan Review Nikon D5200
Kamera Nikon D5200 salah satu kamera yang paling banyak dicari di situs ini, sehingga saya sempatkan untuk merangkum dari berbagai situs luar yang telah melakukan review detail terhadap kamera ini. Semoga review Nikon D5200 ini bisa memberikan gambaran kepada masbro sekalian apakah kamera ini layak atau tidak untuk dipinang hehe .. langsung saja.
Spec Nikon D5200 :
  • 24.1 megapixel DX-format CMOS sensor
  • EXPEED 3 image processing engine
  • Nikon F mount (with AF contacts)
  • 39 point AF system
  • 3.0 inch vari-angle 921k dot LCD monitor
  • Full 1080p HD video recording
  • ISO 100-6400 (extendable to 25600)
  • 5 fps continuous shooting
  • 16 scene modes
  • High Dynamic Range & Active D-Lighting
  • Effects mode
Review Nikon D5200 pertama adalah yang memberikan nilai sangat baik 4.5 dari 5 dengan predikat Highly Recommended. Berikut beberapa kesimpulan yang mereka ambil untuk Nikon D5200 :
D5200 masih menawarkan keunggulan menarik dari kualitas gambar yang sangat baik, interface yang user friendly, handling ergonomi yang baik dan kinerja cepat, semua dalam Body yang ringan dan kompak. D5200 menghasilkan gambar yang sangat baik (foto maupun video) dengan sedikit sekali masalah dan merupakan saingan serius bagi Canon EOS 650D dan Sony A57. Nikon D5200 mungkin bukan kamera revolusioner, tetapi ia tak diragukan lagi sebagai DSLR all-round untuk banyak tipe pengguna yang berbeda tingkat pengalaman, Nikon D5200 sekali lagi layak memenangkan penghargaan Highly Recommended.
Review lainnya adalah dari  juga memberikan nilai bintang 4.5 dari 5 bintang, dengan status juga Highly Recommended :
Nikon D5200 terasa kokoh dan memiliki ukuran hand-grip yang pas, memiliki lapisan karet elastis dan sangat mudah untuk dipegang. Dari ISO 100 sampai ke ISO 3200, gambar mengalami peningkatan noise yang kecil dan konstan, tapi gambar tetap tajam. ISO 6400 terlihat soft sedikit dan kehilangan detail mulai terjadi secara signifikan. Beberapa nilai negatifnya adalah : tidak ada akses cepat ke pilihan menu tertentu, RAW tidak tersedia pada mode HDR, AF lebih lambat dari yang diharapkan, respon shutter lambat di mode live view.
memberikan nilai 90% dengan keunggulan nilai pada kualitas gambar.
Keunggulan utama pada system AF 39-point yang mengesankan, mode burst hingga 5fps, kualitas gambar menakjubkan dan antarmuka pengguna yang intuitif serta dukungan Wi-fi & GPS untu kmempermudah konektivitas. Kekurangannya adalah AF lambat pada mode live-view, lag ketika melihat efek kreatif secara real-time, tidak ada headphone port untuk monitoring audio, lensa kit cukup bising saat beroperasi.
Review dari tidak memiliki sistem rating, tetapi terlihat kesimpulannya tidak jauh beda.
Sensor Nikon D5200 24.1MP mampu merekam gambar dengan banyak detail, terutama dalam file RAW pada setting ISO rendah, dan layar LCD yang bisa diputar membuatnya mudah untuk mengambil gambar still-life, landscpae dan makro. Terdapat sedikit banding di beberapa gambar yang diambil pada IS0 3200 ke atas.

baca juga disini info Nikon

Lensa Tokina 70-200mm F4 Pro FX

Lensa Tokina 70-200mm F4 Pro FX
Lensa Tokina 70-200mm F4 Pro FX

Lensa Tokina 70-200mm F4 Pro FX, Image Credit : Tokina
Tonika menampilkan lensa terbaru mereka di event CP+ dan akan segera dirilis resmi, yaitu lensa Tokina  Tokina 70-200mm F4 Pro FX yang didesain baik untuk kamera Full Frame maupun APS-C, yang biasanya akan dikeluarkan untuk dua versi, mount Canon dan Nikon. Lensa ini akan memiliki optical image stabilizer dan juga ultrasonic AF motor. Selain itu Tokina juga menampikan lensa Tokina 12-28mm F4 Pro DX yang dikhususkan untuk kamera APS-C.
Spesifikasi Lensa Tokina 70-200mm F4 Pro FX :
  • Optical Image stabilization
  • Filter size: 67mm
  • Lens design: 19 optical elements in 14 groups
  • Full frame lens
  • Minimum aperture: f/22
  • Minimum focusing distance: 1.0m
  • Angle of view: 34.45° ~ 12.42°
  • Lens length: 82mm, diameter: 3.57
  • Weight: 1,020 g

Lensa Tokina 12-28mm F4 Pro DX, Image Credit : Tokina
Spesifikasi Lensa Tokin 12-28mm F4 Pro DX :
  • Lens design: 14 optical elements in 12 group
  • Minimum aperture: f/22
  • Minimum focusing distance: 25cm
  • Angle of view: 99.37° ~ 54.73°
  • Lens length: 84mm, diameter: 4.94
  • Weight: 600 g
DSLR untuk pemula

DSLR untuk pemula


Tahun 2013 menjadi tahun yang menyenangkan bagi fotografer pemula yang membeli DSLR kelas pemula atau entry-level karena banyqknya di kalangan anak muda yang ingin berfoto. Betapa tidak, saat itu tercatat banyak produk baru yang harganya terus membuat semua pihak tercengang, karena terus turun hingga menembus angka psikologis (dibawah) lima juta. Seiring krisis ekonomi global di akhir 2008, harga kamera DSLR pun kembali merangkak naik. Kisaran harga DSLR kelas pemula kini berada di kisaran 6 sampai 7 juta, sementara DSLR kelas semi-pro kini berada di atas 10 juta. Hal ini menyebabkan mereka yang belum sempat membeli kamera di tahun lalu menjadi kecewa, karena asumsi harga yang terlanjur ditargetkannya bergeser satu hingga dua juta.
Kini tak perlu lagi menyalahkan masa lalu. Faktanya, saat ini kurs rupiah sekitar 11.000 dan harga DSLR ini sudah stabil di kisaran sekarang. Bila memang sudah ngebet ingin segera memiliki kamera DSLR baru, tak perlu menunggu harga turun lagi yang entah kapan. Berikut daftar DSLR entry level yang bisa dipertimbangkan untuk dibeli pada tahun 2009 ini. Sebagai catatan, di daftar kali ini kami tidak memasukkan DSLR kelas upper entry level yang salah satu cirinya bisa merekam HD movie, karena harga jualnya terlampau tinggi untuk ukuran DSLR murah (contoh : Canon EOS 500D dan Nikon D5000).
Inilah mereka, DSLR murah di tahun 2009, urut dari harga yang terendah :
  1. Sony Alpha A300 (5,7 jutaan)
  2. Canon EOS 1000D (5,8 jutaan)
  3. Pentax K-m (6 jutaan)
  4. Nikon D60 (6,7  jutaan)
  5. Olympus E-620 (7 jutaan)

Kesamaan mendasar

Faktanya, kelima kamera diatas adalah kamera DSLR entry level. Mereka berbagi sensor yang sama (kecuali Olympus dengan sensor agak lebih kecil berformat 4/3), bahkan mereka memakai resolusi yang sama-sama 10 MP (kecuali Olympus dengan 12 MP). Mereka sama-sama dilengkapi dengan lensa kit dalam penjualannya. Soal bodi kamera juga mereka memakai material plastik yang ringan dan kompak, menunjukkan ciri kamera kelas pemula (DSLR kelas pro memakai bodi magnesium alloy). Kinerja shutter secara umum juga sepadan, demikian juga dengan kemampuan ISOnya. Kelimanya juga dijual dengan harga dibawah 7 juta (kelimanya tidak memiliki fitur HD movie recording yang membuat harga DSLR jadi naik). Singkatnya, kelimanya sama-sama baik dan berkualitas, sehingga di awal kami sampaikan saja kalau DSLR manapun yang anda pilih pada dasarnya akan mampu memberikan hasil foto yang baik. Belum puas? Simak lebih jauh plus minus dari kelima kamera DSLR pemula dibawah ini.

Sony Alpha A300 : sarat fitur tak harus mahal

dslr-a300Bahkan Sony A200 pun dijual lebih murah lagi, paket lensa kit hanya 5 juta. Tapi kita tidak sedang membahas A200, kita membahas A300 disini. Sony A300 memakai sistem stabilizer pada bodi, layaknya Pentax dan Olympus. Sony Alpha A300 dan A350 menjadi pendobrak dunia DSLR modern dengan memberi solusi berbeda dalam menyaisati lambatnya auto fokus dalam mode live-view, dengan metoda sensor terpisah. Kecepatan fokus ini tidak menjadikan harga jual A300 lantas jadi tinggi, bahkan Sony A300 ini harganya termurah diantara kelima kamera disini. Bisa dibilang kalau Sony menerapkan strategi spec up, price down pada produk DSLR Alpha.
Plus
Inilah DSLR dengan kecepatan fokus tertinggi saat live-view. Bahkan, A300 ini punya layar LCD 2.7 inci yang bisa dilipat. O ya, urusan kinerja, A300 juga handal. Dengan modul AF 9 titik tentu kamera ini cocok untuk urusan jepret cepat seperti candid. Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Kemampuan shutternya standar dengan 3 fps unlimited, dan tersedia wireless flash commander untuk kreatifitas fotografi dengan lampu kilat. Bahkan menurut kami plus-plus ini semakin lengkap dengan harga jualnya yang juga wajar, bahkan cenderung murah, cukup dengan 5,7 juta plus lensa kit 18-70mm yang mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Minus
Bila anda berharap live-view di A300 ini cepat, memang betul adanya. Tapi sensor terpisah membuat live-view ini tidak presisi, tidak dapat menampilkan histogram, dan tidak bisa di-enlarge untuk manual fokus assist. Sony juga masih berkutat mencari metoda tebaik untuk membuat foto JPEG dari Alpha series ini supaya bisa menyamai hasil JPEG kamera lain. Bila anda sering memotret JPEG, cobalah bereksperimen dengan setting JPEG yang paling baik menurut anda.
Dukungan lensa
Pada dasarnya dukungan lensa Sony SAL-DT dari Sony cukup lengkap dan berkualitas. Masalahnya di tanah air mungkin stoknya belum banyak, ditambah lagi tidak banyak lensa alternatif yang mendukung mount dari Sony. Bila anda cukup puas dengan lensa kit DT 18-70mm, sementara optimalkan saja dulu lensa tersebut. Bila ingin mencari lensa tele, pertimbangkan DT 75-300mm dan untuk widenya bisa coba DT 11-18mm.
Penerus Sony A300 di 2009

Sony sudah membuat produk pengganti A300 yang bernama A330, meski tidak ada perubahan signifikan dari upgrade tersebut. Oleh karena itu selama stoknya masih ada, kami masih merekomendasikan A300 saja.

Canon EOS 1000D : versi hemat dari EOS 450D

canon-eos-1000dEntah mengapa waktu itu Canon meluncurkan EOS 1000D (Rebel Xs) disaat penjualan EOS 450D sedang bagus-bagusnya. Tapi kini harga 450D sudah hampir sejajar dengan kamera DSLR semi-pro lawas seperti Nikon D80 sehingga 1000D ini jadi lumayan dicari oleh para budget-minded, apalagi 400D kini sudah semakin sulit dicari. EOS 1000D diluncurkan tengah tahun 2008 dengan paket lensa kit 18-55mm yang sudah dilengkapi IS. kamera ini memakai sensor CMOS 10 MP, dengan 7 titik AF dan mampu mencapai ISO 1600. Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa 1000D sudah dilengkapi dengan live-view, meski masih kalah mantap dari 450D. Kinerja shutter cukup standar dengan 3 fps, dan layar LCD juga standar dengan 2,5 inci.
Plus
Live view jadi andalan 1000D, beserta segala kelebihan lain dari Canon seperti kinerja noise reduction yang baik dan tone yang karakternya juga baik. EOS 1000D pun bisa dipasangkan dengan berbagai lensa EF, EF-S ataupun lensa alternatif merk lain. Kami tempatkan 7 titik AF sebagai nilai plus kamera ini, meski sebenarnya ini adalah down-spec bila dibanding dengan 400D yang punya 9 titik AF. O ya, EOS 1000D juga memakai sistem anti debu yang serupa dengan yang dipakai di 450D.
Minus
Sebagian fotografer tidak bisa menerima kenyataan kalau ada kamera DSLR tidak dilengkapi dengan spot metering, karena fitur ini penting untuk dipakai di kala kondisi pencahayaan amat sulit. Faktanya, 1000D tidak punya spot metering. Apakah ketiadaan ini membuat anda merasa keberatan atau tidak, terserah anda. Kekurangan lainnya cukup mendasar, yaitu bodi kamera ini yang terasa kurang nyaman karena terbalut plastik tanpa lapisan karet layaknya 400D atau 450D.
Dukungan lensa
Tidak perlu kuatir akan dukungan lensa dari Canon. Untuk teman lensa kit, bisa dipilih lensa tele EF-S 55-250mm dan lensa widenya bisa menjajal EF-S 10-22mm. Bila bosan dengan lensa kit dan ingin menjajal lensa kit yang terbaik dari Canon, cobalah EF-S 17-85mm USM.
Penerus EOS 1000D di 2009

Belum ada, setidaknya sampai tulisan ini dibuat Juli 2009 ini. Rumornya, Canon akan membuat penerus 1000D yang akan bernama EOS 2000D dengan fitur HD movie. Sudah bisa diprediksi, harga jual 2000D akan melonjak jauh sehingga EOS 1000D bagaimana pun masih lebih menarik dalam hal harga jual.

Pentax K-m : versi hemat dari K200D

pentax-k-mDi daftar ketiga ini kami sajikan kamera yang tergolong mungil yaitu Pentax K-m (K2000). Rupanya Pentax terinspirasi oleh Canon saat membuat 1000D, karena Pentax juga mengalami hal yang sama. Produk andalannya di kelas entry level, K200D rupanya terlalu mahal dan membuat Pentax terpaksa meluncurkan satu lagi produk yang lebih murah dari K200D ini. Alhasil lahirlah Pentax K-m, dengan ciri tidak lagi memakai bodi weather sealed, dan membuat lensa kit baru yang lebih kecil dan ringan. Pentax memakai stabilizer pada sensor CCD 10 MPnya, sehingga artinya semua lensa yang dipasang di bodi Pentax akan merasakan efek stabilisasi hingga 3 stop. Versi hemat artinya tentu ada aspek yang dikurangi, dalam hal ini jumlah titik AF pada Pentax K-m ini hanya 5 titik saja (dibanding 11 titik pada K200D). Tapi 5 titik ini masih lumayan karena masih fleksibel saat kamera dipakai memotret vertikal atau horizontal. Soal ISO pun Pentax ini mampu mencapai ISO 3200 yang cukup mengagumkan untuk kamera sekelas ini. Inilah satu-satunya DSLR dengan tenaga 4 buah baterai AA.
Plus
Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup terasa. Secara umum kinerja dan performa menyamai K200D, bahkan burst-nya mengalahkan K200D dengan 3.5 fps yang mana amat baik untuk kamera semurah ini. Layar LCD pun tampak lega dengan ukuran 2,7 inci.
Minus
Saat pesaingnya EOS 100D menyertakan fitur live-view, Pentax K-m ini hadir tanpa fitur tersebut. Selain itu indikator titik AF tidak ditampilkan di viewfinder layaknya DSLR lain. Belum ada info apakah ada sistem anti debu di Pentax K-m ini.  Selain kedua hal diatas, praktis tidak ada hal negatif yang dijumpai di kamera ini, bahkan sejujurnya kamera ini semestinya dapat mengungguli EOS 1000D seandainya memiliki live-view.
Dukungan lensa
Belum ada info apakah lensa kit DA-L 18-55mm ini telah memakai motor SDM atau belum. Tapi lensa Pentax terkenal akan kualitas dan harganya. Bila perlu lensa tele, bisa pertimbangkan DA 50-200mm dan untuk widenya bisa mencoba DA 12-24mm. Bila tidak puas dengan lensa kitnya, jajal saja lensa sapu jagad dengan rentang ekstra panjang, DA 18-250mm. Sayangnya lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina jarang punya stok dengan mount KAF Pentax.

Nikon D60 : kualitas di dalam kesederhanaan

D60

Adalah Nikon D60, si pengganti D40 yang kini mengusung sensor CCD beresolusi 10 MP, dibekali lensa kit 18-55mm VR, fitur anti-debu, active-D lighting dan Expeed engine Nikon. Kamera ini mampu mencapai ISO 1600 (dan ISO setara 3200 bila dinaikkan satu tingkat dari ISO 1600), dengan kecepatan burst 3 fps. Modul AF memakai 3 titik AF saja, sangat basic, namun tersedia mode continuous servo untuk mengunci fokus benda yang bergerak. Inilah kamera yang tidak sarat fitur berlimpah namun tetap menjaga kualitas khas Nikon dalam kesederhanaannya.
Plus
Apa sih yang jadi kekuatan utama dari DSLR termurah dari Nikon ini?  Faktanya, anda tidak akan menemukan fitur modern seperti live-view di D60. Tapi mengapa masih banyak orang yang terus mengincar dan membeli D60 ini? Bisa jadi alasannya cukup subjektif,  karena yang jadi andalan Nikon D60 pun adalah fitur yang pada dasarnya ada di semua kamera DSLR, namun diyakini pada D60 fitur tersebut lebih baik dan efektif. Diantaranya : metering yang handal, Auto ISO yang efektif, noise reduction yang tepat, karakter warna / tone yang consumer friendly, ergonomi dan tata lentak tombol yang nyaman, menu yang mudah dipahami, hingga white balance yang jarang meleset. Anda boleh tidak sependapat, kami katakan sekali lagi, ini subjektif sekali. Jangan sampai ada anggapan kamera lain meteringnya jelek, misalnya. Tapi dapat kami katakan kalau Nikon membuat setiap kameranya dengan cermat, termasuk D60 ini yang mampu memberi hasil foto yang baik, dan pemakai D60 dapat ikut merasakan seperti apa rasanya memakai dan menikmati hasil foto dari DSLR Nikon. Bila anda ‘brand minded’, dan memang meyakini kalau hasil foto dari Nikon memang mantap, pilih saja D60 tanpa harus memperdulikan kekurangan dari D60 di bawah ini.
Minus
Ada dua hal yang menjadi kekurangan utama D60 : ketiadaan motor AF di bodi dan jumlah titik AF yang hanya tiga titik. Sejumlah Nikon mania mengeluhkan lensa-lensa lawasnya (Nikon AF atauNikon AF-D) tidak bisa auto fokus di D60, sementara pecinta candid dan sport photography mengeluhkan titik AF yang terlalu sedikit pada D60. Awalnya kami tidak melihat ketiadaan live-view adalah suatu kekurangan fatal, tapi mengingat kompetitor sudah ada yang memakai live-view, bolehlah kami sebut D60 ini semestinya juga dilengkapi dengan live-view. Buat yang senang memotret bracketing untuk foto HDR juga akan kecewa karena fitur yang amat standar ini bahkan tidak dijumpai di D60. Nikon D60 pun kurang fleksibel karena ketiadaan dukungan wireless flash ataupun asesori resmi battery grip.
Dukungan lensa
Tidak dipungkiri lagi, dukungan lensa Nikon selalu jadi alasan utama mengapa orang memilih DSLR Nikon. Betul kalau D60 tidak bisa auto fokus di lensa Nikon lama, tapi kini jajaran lensa Nikon AF-S baru sudah semakin banyak. Lensa kit D60 pun sudah amat baik plus sudah ada VRnya. Bila ingin menambah lensa lagi, pertimbangkan AF-S 55-200mm untuk telenya, dan AF-S 12-24mm untuk widenya. Bila bosan memakai lensa kit, tersedia lensa lain pengganti lensa kit yang bagus dan terjangkau seperti AF-S 18-135mm, AF-S 18-105mm atau AF-S 16-85mm, kesemuanya lensa DX. (Catatan : lensa Nikon non-DX juga bisa dipakai, meski ukurannya lebih besar dari lensa DX).
Penerus D60 di 2009 (update 30 Juli 2009)

Nikon D3000 dengan 11 titik AF dan LCD berukuran 3 inci. Baik D3000 dan D60 masih sama-sama memakai sensor CCD 10 MP, tanpa live-view dan burst 3 fps. Bila D3000 ini sudah tersedia di pasaran, maka D60 ini secara alami akan diskontinu.

Olympus E620 : fitur dan kinerja mendekati kamera DSLR semi-pro

oly-e520Penerus E520 ini masih tergolong DSLR entry-level, meski sebenarnya secara fitur sudah mendekati DSLR semi-pro.  Terinspirasi dari sukses E-30, Olympus membuat kejutan dengan perubahan radikal pada E620 dengan banyak penyempurnaan yang membuatnya mampu bersaing dengan DSLR entry-level lain. Tersedia paket dengan lensa kit 14-42mm (di beberapa tempat dijual dengan paket dobel lens kit 40-150mm), dengan sensor NMOS 12 MP beraspek rasio 4 : 3 dan crop factor 2x, maka lensa kit ini menjadi setara dengan 28-85mm. E620 telah dilengkapi layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, live-view, anti debu, dan stabilizer pada bodinya. So, meski E620 di daftar ini menjadi yang termahal (dan terbaru), namun dengan segala kelebihan fiturnya memang layak untuk menjadi yang terbaik di kelas DSLR pemula.
Plus
Live-view dengan face detection, 7 titik AF (sebelumnya 3 titik AF di E520), anti debu SSWM, stabilizer pada bodi (4 stop) sehingga lensa yang terpasang mengalami efek stabilisasi, flash wireless untuk kreativitas lampu kilat, desain bodi tampak kokoh dan tidak murahan, layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat, shadow adjustment technology, sebagian tombolnya bisa menyala dalam gelap, 4 fps burst mode yang cepat, dan mendukung dua macam memory card (CF dan xD).
Minus
Gambar lebih noise di ISO tinggi dibanding kompetitor (karena ukuran sensor yang lebih kecil dari APS-C), cenderung mengalami highlight clipping, viewfinder lebih kecil dari pesaingnya, tata letak tombol tersebar di berbagai sisi bodi kamera.
Dukungan lensa
Terdapat beberapa lensa Zuiko yang berkualitas, dengan asumsi crop factor 2x dari sensor Olympus, membuat lensa tele akan mendapat keuntungan lebih dimana fokal 200mm bisa menjadi 400mm, misalnya. Sebagai teman dari lensa kit, bisa dipertimbangkan Zuiko ED 40-150mm dan untuk lensa widenya bisa memakai ED 9-18mm.

Kesimpulan

DSLR entry-level menjadi produk primadona mereka yang punya anggaran terbatas ataupun mereka yang baru menerjuni dunia fotografi digital. Dengan dana 5 sampai 7 juta, sudah bisa  didapat kamera DSLR yang cukup lengkap, berkualitas tinggi dan berkinerja lumayan dan memiliki paket lensa kit yang memadai untuk mulai belajar memotret. Meski ada juga DSLR entry level yang punya harga 8 jutaan (seperti EOS 450D/500D, Pentax K200D atau Nikon D5000) namun menurut kami dengan dana 7 juta atau kurang kita sudah bisa memiliki DSLR kelas pemula yang baik, dan dana 8 juta sebetulnya lebih baik dipakai untuk membeli DSLR semi-pro bodi only semisal Nikon D80 atau Canon 40D.
Delapan kamera prosumer super zoom baru

Delapan kamera prosumer super zoom baru


Kamera digital prosumer identik dengan kamera serius yang punya bodi mirip kamera DSLR dan berlensa panjang namun tidak bisa dilepas-pasang layaknya lensa pada kamera DSLR. Awalnya kamera prosumer hadir di masa lalu ketika harga DSLR masih sangat tinggi, padahal banyak fotografer yang ingin berlatih fotografi secara serius namun tak cukup dana untuk membeli DSLR. Oleh karenanya, saat itu kamera prosumer laris manis meskipun kalau diadu dengan DSLR dalam hal kualitas foto dan kinerja secara umum, memang harus mengaku kalah. Kini, eksistensi kamera prosumer masih terus bertahan meski harus berjuang keras ditengah himpitan serbuan kamera DSLR baru nan murah dan canggih. Salah satu cara prosumer untuk tetap eksis di tahun sekarang adalah dengan membuat lensa sepanjang mungkin supaya menarik minat para pembeli. Kamera prosumer dengan lensa zoom optik diatas 20x pun kini sudah jadi suatu hal yang umum dijumpai.

Mengapa kamera prosumer?

Perkembangan teknologi fotografi digital masa kini telah mengantar kamera prosumer menjadi kamera praktis yang bisa diandalkan untuk fotografi sehari-hari, mulai dari memotret makro, landscape, hingga foto tele di alam terbuka. Bahkan kemampuan prosumer dalam merekam video pun semakin ditingkatkan, dengan kemampuan merekam High Definition serta memakai kompresi MPEG-4 AVC yang efisien. Banyak prosumer masa kini yang telah dilengkapi dengan dudukan flash eksternal, sehingga keterbatasan prosumer di daerah kurang cahaya dapat disiasati dengan memasang lampu kilat eksternal yang berdaya lebih besar, dan bisa dibouncing keatas bawah atau kiri kanan. Soal kenyataan lensa prosumer yang tetap/fix, bila disikapi dengan bijak bisa menghindarkan kita dari keinginan membeli banyak lensa, mencegah gonta-ganti lensa yang tidak praktis dan beresiko masuknya debu ke dalam sensor. Soal kendala noise dapat diupayakan dengan sedikit kerja ekstra yaitu memotret memakai file RAW dan selanjutnya diolah di komputer. Belum lagi soal harga dan bobot prosumer yang lebih ringan dari DSLR, membuat prosumer masih punya harapan untuk mendapat tempat di kalangan fotografer, baik pemula hingga profesional sekalipun.

Apa kekurangan kamera prosumer?

Kompromi seperti apa yang harus diterima oleh seseorang yang membeli kamera prosumer? Kamera jenis ini punya harga cukup mahal, namun masih lebih murah daripada kamera DSLR. Jadi janganlah berharap kalau kamera prosumer akan punya kinerja layaknya DSLR. Jadi kompromi yang harus diterima setidaknya ada empat hal :
  • Pertama adalah menghindari pemakaian ISO tinggi, artinya bermain aman saja di ISO dasar hingga maksimal ISO 400.
  • Kedua adalah tidak berharap banyak akan fotografi dengan DOF sempit, seperti foto portrait atau still life.
  • Ketiga adalah menghindari fotografi yang memerlukan kerja kamera yang serba cepat, termasuk shutter, auto fokus hingga continuous shooting yang cepat.
  • Keempat pemakai prosumer tentunya hanya mengandalkan lensa yang ada, sehingga tidak bisa berganti lensa lain, meski tersedia asesori lensa add-on/conversion lens.

Rekomendasi kami

Bila anda termasuk orang yang tidak ingin ribet memakai kamera DSLR beserta segala lensanya, mengapa tidak menjajal kamera prosumer super zoom saja? Simaklah delapan kamera  prosumer super zoom baru yang kami pilihkan untuk anda, dilengkapi dengan uraian singkat fiturnya beserta kekurangannya, disajikan urut sesuai abjad. Siapa tahu satu diantara kamera berikut ini cocok di hati anda.

Canon Powershot SX1 : urusan foto dan video sama baiknya

canon-sx1Keputusan tepat dari Canon dalam merevolusi S5 IS tampak dari dipakainya lensa super zoom 20x yang wide di 28mm pada Powershot SX1 dan juga memakai sensor baru CMOS 10 MP untuk kinerja burst yang lebih tinggi (4 fps dengan resolusi penuh). SX1 ini tetap melanjutkan spesifikasi S5 IS yang sudah baik seperti LCD yang bisa diputar (kini berukuran 2,8 inci widescreen), stereo movie recording, memakai teknologi USM untuk motor zoomnya (bukan motor fokus) dan flash hotshoe. Bahkan kemampuan movie SX1 amat mengagumkan dengan kemampuan full HD 1080i plus HDMI dengan kompresi efisien H.264 dan kemampuan zoom saat merekam video (berkat pemakaian USM motor yang tanpa suara), membuat SX1 jadi kamera dan camcorder yang sama baiknya.  Catatan : kami juga menyukai saudara kandung dari SX1 yaitu SX10 yang masih memakai sensor CCD dan tidak memiliki fitur HD movie.
Kekurangan dari SX1/SX10 sendiri adalah lensanya yang tidak secepat pendahulunya, dengan bukaan maksimal f/5.7 pada tele maksimum yang membatasi pilihan bukaan diafragma di saat memotret tele (dan kecenderungan mengalami efek difraksi lensa).

Casio Exilim FH20 : lebih cepat dari DSLR tercepat

casio-ex-fh20Bayangkan kecepatan burst kamera DSLR, betapa tingginya hingga ada yang mencapai 10 frame per detik. Bayangkan kalau ada kamera prosumer yang bisa melebihi kecepatan DSLR dengan 40 fps! Ini bukan mimpi, kamera Exilim FH-20 dengan sensor CMOS 9 MP mampu memotret hingga 40 fps pada resolusi 3072 x 2304 piksel, atau empat kali lebih cepat dari kemampuan burst DSLR yang sekitar 10 fps. Didukung lensa wide 26mm dengan 20x zoom dan kemampuan merekam video HD 30 fps (bahkan tersedia pilihan 1.000 fps untuk resolusi 224 x 56 piksel, lebih kecil dari resolusi video kamera ponsel), file RAW format, image stabilizer dan layar LCD 3 inci, membuat super zoom EX-FH20 ini jadi pesaing berat Canon SX1 di atas.
Kekurangan dari EX-FH20 adalah ketiadaan dudukan lampu kilat dan kualitas optik dari lensa Exilim yang belum sepadan dengan lensa kamera kelas prosumer lainnya.

Fuji FinePix S1500 : sederhana, murah namun lengkap

fuji-s1500Fuji memiliki banyak produk yang berlensa panjang, bahkan lensa kamera Fuji kali ini tergolong kurang panjang karena ‘hanya’ punya 12x zoom optik saja. Namun kami sengaja pilihkan Fuji S1500 ini dengan dua pertimbangan : fitur dan harga. Bagi sebagian orang, memiliki kamera dengan lensa 12x zoom itu sudah lebih dari cukup, dan lensa diatas itu hanya membuat harga jual kamera jadi semakin tinggi. Maka kamera 10 MP ini hadir untuk mereka yang mengerti arti kesederhanaan namun tetap menginginkan yang terbaik, katakanlah seperti kualitas optik lensa, bukaan maksimal lensa di f/2.8 pada posisi wide, fitur stabilizer dan desain serta ergonomi kamera yang nyaman. Sebagai info tambahan, Fuji ini memakai LCD berukuran 2,7 inci dan ditenagai oleh 4 baterai AA. Kesemua itu bisa didapat pada Fuji S1500 ini dengan harga dibawah tiga juta saja.
Kekurangan dari Fuji S1500 ini adalah ketiadaan dudukan lampu kilat, lensa kurang wide dan fitur movie yang cuma VGA saja (meski hebatnya dia mampu zoom optik saat merekam video).

Kodak Z1015IS : unggul di lensa Schneider dan HD movie

kodak-z1015lKodak tidak punya pilihan lain kecuali fokus di kelas prosumer, mengingat di kelas DSLR Kodak tidak punya produk apapun. Seperti biasanya, andalan Kodak adalah lensanya yang dipercayakan pada Schneider untuk kualitas terbaik. Kali ini Kodak hadir dengan Kodak Z1015IS, kembali memakai desain kamera yang lagi-lagi cukup aneh, dengan resolusi 10 MP, lensa 15x zoom (28-420mm) yang anehnya memakai bukaan diafragma f/3.5 pada posisi wide. Kamera berlayar LCD 3 inci ini sudah dilengkapi dengan fitur stabilizer optik,  RAW file format dan HD movie 30 fps.
Kekurangan kamera ini adalah desainnya yang aneh (anda boleh tidak sependapat), tanpa dudukan lampu kilat dan lensanya yang lambat dengan bukaan maksimal f/3.5 saja.

Lumix FZ28 : tetap bertahan memakai lensa 18x zoom

lumix-fz28Sukses Panasonic dalam merajai pasaran kamera prosumer dengan zoom 18x telah ditorehkan oleh Lumix FZ18. Kini penerusnya hadir dengan nama Lumix FZ28 yang memakai sensor CCD 10 MP, dan mengalami perubahan sedikit dalam rentang fokal (kini 27-486mm f/2.8-4.4) namun tetap bertahan di 18x zoom optik, serta memakai Venus 4 engine yang lebih bertenaga. Lumix sudah dikenal akan lensa Leicanya yang berkualitas, pengoperasiannya yang mudah (intelligent Auto), serta stabilizer OISnya yang paling efektif dibanding merk lain. Bagi yang suka file RAW akan merasa lega dengan kemampuan FZ28 merekam file RAW, serta tersedianya fitur HD movie 30fps yang jadi tren standar resolusi di masa depan. Kesemua fitur ini membuat Lumix FZ28 menjadi yang terbaik diantara kamera dengan zoom lensa sejenis.
Kekurangan Lumix secara umum adalah noisenya yang tampak lebih tinggi dari kamera lain (padahal artinya Lumix menjaga detail lebih baik daripada kamera lain). Khusus FZ28 ini, sayangnya tidak tersedia dudukan lampu kilat sehingga cukuplah mengandalkan lampu kilat built-in di kamera.

Nikon Coolpix P90 : makin ambisius dengan 24x zoom

niko-p90Kurang sukses dengan Coolpix P80, Nikon hadir kembali dengan penerusnya yaitu Coolpix P90 yang membuat kejutan dengan desain lensanya yang bermula dari 26mm dan berakhir di 624mm (atau 24x zoom optik). Tampak ambisius memang, terlebih Nikon kini mengusung sensor dengan resolusi 12 MP guna memenangkan persaingan. Kamera yang berdesain cantik ini punya tata letak tombol yang apik, layar LCD lipat dan sudah dilengkapi stabilizer pada sensornya.
Percayakah anda kalau kamera selengkap dan seambisius ini belum memiliki fitur HD movie? Banyak fans Nikon yang mengeluhkan hal ini, belum lagi ketiadaan fitur RAW file format dan absennya dudukan lampu kilat pada kamera ini membuat upgrade dari P80 ke P90 ini terasa kurang signifikan.

Pentax X70 : super zoom pertama dari Pentax

pentax-x70Persaingan panas diramaikan oleh pendatang baru di kelas super zoom, yaitu Pentax yang menjajal peruntungannya dengan meluncurkan Pentax X70. Kamera super zoom berlensa 24x zoom ini juga punya rentang yang persis sama seperti Nikon P90 yaitu 26-624mm, bahkan sama-sama memakai sensor 12 MP. Bedanya Pentax ini tidak memakai LCD lipat, dan sudah mendukung movie HD meski hanya 15 fps. Soal stabilizer, Pentax juga menerapkan sistem sesnsor shift seperti halnya Nikon P90.
Kamera ini belum mendukung RAW file format dan tidak ada dudukan lampu kilat, sungguh disayangkan mengingat Pentax sebagai pendatang baru semestinya sudah mempelajari kekurangan dari para pesaingnya.

Sony Cybershot DSC-HX1 : semakin mendekati kamera DSLR

sony-cybershot-hx1Tibalah kita di produk terakhir yaitu Sony DSC-HX1 yang mengusung sensor CMOS 9 MP. Dengan target menyaingi langsung Canon SX1 dan Casio FH20, Sony ini pun mengemas lensa Sony G dengan kemampuan zoom 20x. Kode G sendiri menunjukkan pemakaian 6 blade diafragma (hampir menyerupai lensa DSLR dengan 7 blade) untuk kualitas lensa yang lebih baik. Fitur lainnya adalah layar LCD lipat berukuran 3 inci, sweep panorama, steady shot (stabilizer optik), stereo HD movie 1440 x 1080 dan Bionz prosesor (milik DSLR Sony Alpha).

Sayang beribu sayang kalau kamera secanggih ini belum dilengkapi dengan dudukan lampu kilat eksternal dan tidak mendukung RAW file format, tapi begitulah kenyataannya.

Kesimpulan

tabel
Tidak ada kamera yang jadi pemenang di daftar ini, karena kali ini kami memang menyajikan pilihan dan andalah yang menentukan kamera mana yang cocok sesuai kebutuhan fotografi dan budget anda. Bila anda mencari kamera dengan lensa terpanjang saat ini, ada Olympus SP-590 dengan lensa super ekstrim 26x zoom optik, atau 26-676mm dengan resolusi 12 MP. Namun karena Olympus masih memakai memory card xD yang kuno dan lambat, kami tidak memasukkannya kedalam daftar rekomendasi kali ini.
Sebagai kesimpulan dalam tulisan ini, kami kelompokkan kamera-kamera diatas dalam katagori yang sama :
  • Ada tiga kamera yang sudah memakai sensor CMOS seperti Canon SX1, Casio FH20 dan Sony HX1, dengan asumsi sensor CMOS mampu memberi kinerja lebih baik di ISO tinggi dan kecepatan burst yang juga lebih baik. Tapi penggunaan sensor CMOS tentu membuat harga kamera jadi lebih tinggi (di kisaran 5 jutaan).
  • Ada dua kamera yang sangat ambisius dalam mendesain lensa dengan 24x zoom yaitu Nikon P90 dan Pentax X70, sementara sisanya bertahan di 20x, 18x, 15x bahkan hanya 12x saja. Hebatnya, keduanya bukan cuma sama-sama memakai lensa 24x zoom saja, tapi keduanya juga sanggup membuat lensa yang bermula dari 26mm (sementara pesaing umumnya 28mm).
  • Jangan terpaku pada resolusi kamera, karena sensor kecil pada kamera non DSLR sudah sangat cukup bahkan hanya dengan 5 MP sekalipun. Kami menganggap resolusi diatas 10 MP sudah melampaui batas fisika sensor sehingga sangat rentan noise di ISO tinggi. Jadi kalau perlu kamera resolusi di atas 10 MP, sebaiknya pertimbangkan saja DSLR. Disini Lumix FZ28, Nikon P90 dan Pentax X70 tampak begitu memaksakan diri dengan 12 MP, meski tidak banyak bedanya bila dibanding dengan 10 MP.
  • Kamera prosumer disebut berfitur lengkap jika memiliki fitur seperti manual mode, stabilizer, RAW file format dan dudukan lampu kilat eksternal. Kesemua kamera diatas telah dilengkapi dengan manual mode dan stabilizer, namun tidak semuanya memiliki RAW file format dan dudukan lampu kilat. Bila anda perlu kamera dengan RAW file format, cermati baik-baik spesifikasi teknis kamera yang akan anda beli. Bila anda ingin kamera dengan dudukan lampu kilat, tampaknya hanya Canon SX1 yang memilikinya.
  • Fitur HD movie sudah jadi tren di tahun 2009 ini. Juaranya HD movie di daftar kali ini adalah Canon SX1 dan Sony HX1 dengan audio stereo. Namun bila anda merasa tidak perlu kamera dengan HD movie, tersedia kamera yang hanya mampu merekam VGA movie seperti Fuji S1500 atau Nikon P90. Hati-hati karena ada juga kamera yang memaksakan HD movie tapi hanya sanggup 15 fps (semestinya minimal 24 fps) sehingga gambar video akan tampak patah-patah.
Itulah daftar kamera prosumer yang bisa kami rekomendasikan untuk tahun ini, semoga bermanfaat. Diskusikan dengan kami melalui forum bila ada hal-hal yang kurang jelas, salam..

pilih Nikon D 3100 atau canon 1100d

 
 wah apakah benar disini ada duel camera kayak duel tinju aja disini saya posting tentang camera yang saling rebut gelar juara haah..
Perang antara Canon dan Nikon dalam dunia DSLR seakan tak ada habisnya. Keduanya sama-sama punya produk unggulan di tiap segmen, khususnya di kelas DSLR pemula yang paling besar market share-nya. Kali ini kami akan membahas mengenai pertarungan seimbang dua produk yang amat populer yaitu EOS 1100D dari kubu Canon melawan D3100 dari kubu Nikon. Keduanya meski masuk ke kategori DSLR pemula namun secara esensi sepertinya sudah berevolusi menjadi kamera lengkap nan terjangkau dengan harga jual di kisaran 5 jutaan rupiah. Simak seperti apa keunggulan masing-masing dan temukan kamera mana yang terbaik di kelas pemula dalam artikel kami kali ini.
Nikon D3100
Diantara keduanya, Nikon D3100 lebih dahulu hadir yaitu tepatnya di bulan Agustus 2010 menggantikan D3000 dengan perbedaan utama yaitu beralihnya pemakaian sensor CCD 10 MP di D60/D3000 menjadi sensor CMOS 14 MP. Dengan harga 5,5 juta plus lensa kit AF-S 18-55mm VR, kamera keren ini sudah bisa jadi milik anda. Meski mengusung embel-embel kamera pemula, namun nama itu lebih dimaksudkan bahwa fitur yang dimiliki kamera ini didesain untuk mudah digunakan oleh pemula. Tetapi bila ditinjau spesifikasinya tampak kalau D3100 punya banyak keistimewaan seperti 11 titik auto fokus yang akurat dan kemampuan merekam video High Definition beresolusi 1920 x 1080 dengan auto fokus. Bahkan shutter unit kamera ini sudah lulus uji untuk 100 ribu kali pakai. Wow..


Dalam hal kemampuan ISO, D3100 tampil mengesankan dengan kemampuan ISO 3200 dan bisa ditingkatkan sampai setara dengan ISO 12800. Artinya kamera ini bisa diandalkan untuk dipakai di tempat dengan pencahayaan kurang. Kalaupun ada hal yang membedakan kamera ini dengan DSLR Nikon yang lebih mahal adalah kecepatan burstnya yang cukup mencapai 3 foto per detik dan resolusi layar LCD yang cukup dengan 230 ribu piksel saja. Yang disayangkan adalah Nikon masih belum menyediakan fitur dasar berupa exposure bracketing di D3100. Selain itu D3100 juga tidak menyediakan motor AF sehingga lensa Nikon lama (non AF-S) tidak bisa auto fokus. Tapi apapun itu, D3100 dianggap sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah dibuat oleh Nikon.
Canon 1100D


Canon awalnya mengandalkan EOS 1000D sebagai DSLR paling ekonomis yang pernah dibuatnya. Respon pasar ternyata sangat positif akan hadirnya EOS 1000D sehingga Canon bisa menikmati keuntungan dari penjualan kamera seri 4 digit tersebut. Mungkin itulah alasan kenapa Canon perlu waktu 18 bulan untuk membuat penerus dari 1000D, ditambah lagi saat ini semua kamera sudah semakin modern dan dilengkapi dengan fitur HD movie, maka upgrade 1000D ini terasa mendesak untuk dilakukan. Setengah tahun sejak Nikon meluncurkan D3100, tepatnya di bulan Februari 2011 akhirnya Canon meluncurkan EOS 1100D, maka dimulailah perang antara keduanya sebagai DSLR pemula terbaik yang pernah ada.


Beberapa penyempurnaan penting dilakukan Canon dalam membuat penerus 1000D yaitu dipakainya sensor CMOS 12 MP dengan prosesor Digic IV. Kamera seharga 5,2 juta ini bahkan sudah dilengkapi dengan lensa kit EF-S 18-55mm IS yang cukup baik untuk dipakai sehari-hari. Kemampuan merekam video telah dibenamkan di EOS 1100D ini, tepatnya adalah High Definition resolusi 1280 x 720 piksel. Hal mengesankan lainnya yang dijumpai di kamera ini adalah kemampuan ISO 6400 dan metering 63 zone yang peka terhadap fokus, warna dan luminance. Layaknya DSLR pemula lain, kecepatan  burst 1100D hanya mencapai 3 gambar per detik dan resolusi layar LCD-nya memang hanya 230 ribu piksel saja. Sayangnya hingga kini Canon belum mengizinkan EOS empat digitnya untuk memiliki fitur spot metering.
Mana yang lebih baik?
Tidak mudah menilai mana yang lebih baik dari keduanya. Disamping memiliki spesifikasi yang hampir sama, keduanya juga dijual di kisaran harga yang hampir sama juga. Bolehlah dibilang keduanya berimbang terutama dalam hal :
  • kualitas hasil foto (skor sensor di dxomark berbeda sedikit)
  • fitur live view
  • kecepatan burst (3 fps)
  • resolusi layar LCD
  • spesifikasi dan jenis viewfinder
  • ada mode untuk membantu pemula
Namun dalam beberapa hal Nikon D3100 lebih unggul seperti :
  • resolusi dan ukuran sensor sedikit lebih besar (14 MP vs 12 MP)
  • titik AF yang lebih banyak (11 titik vs 9 titik)
  • ada fitur 3D tracking AF
  • resolusi HD video (1080p vs 720p) plus auto fokus saat merekam video
  • ada tuas khusus untuk berganti mode cepat (continuous shooting, self timer dsb)
  • jangkauan lampu kilat lebih besar (12 m vs 9 m)
  • layar LCD sedikit lebih lega (3 inci vs 2.7 inci)
Sedangkan hal yang membuat EOS 1100D lebih baik adalah:
  • dukungan semua lensa Canon EF dan EF-S (bisa autofokus)
  • bisa bracketing (AE dan WB)
  • ISO normal maksimum ISO 6400 (vs ISO 3200)
  • ada tombol langsung untuk mengatur ISO
  • muncul histogram saat live view
  • tersedia aksesori resmi untuk battery grip
  • baterai tahan lebih lama (700 shot vs 550 shot)
Dalam hal ini kesimpulan kami adalah bahwa Nikon D3100 sedikit lebih unggul dari EOS 1100D. Kunci kemenangannya adalah dalam hal sensor, fokus dan HD video. Sedang EOS 1100D bisa dibilang tidak ada fitur yang terlalu menonjol tapi semua kebutuhan dasar fotografi sudah tercukupi ditambah dengan kemampuan bracketing dan dukungan auto fokus pada semua lensa Canon. Jadi pilih yang mana, tentu terserah anda..

camera saku 2013

wah disini banyak banget pilihan buat para pecinta fotografi saya sengaja posting ini buat teman semua agar bisa memotret secara bagus dengan harga murah dan bergaya klasik dantidak ketinggalan jaman dengan DSLR Kamera saku untuk kebutuhan outdoor yang didesain tangguh dan tahan air pilihannya memang tidak terlalu banyak. Tiap merk paling hanya punya satu atau dua versi dan harganya juga lebih mahal. Tapi buat yang senang berpetualang, kamera saku tangguh lebih menarik untuk dipunyai karena tak perlu kuatir kameranya rusak kalau dipakai dalam kondisi ekstrim, hingga masuk ke air sekalipun. Di awal tahun ini berikut pilihan kamera outdoor waterproof yang bisa kami rangkum untuk anda.

Pentax WG-3 : bodi kekar, bukaan lensa besar

Add caption

Pentax WG-3 memakai sensor 16 MP dengan stabilizer, lensa 25-100mm f/2-4.9 yang membuatnya percaya diri dipakai di kondisi kurang cahaya. Kamera ini bisa dibilang tahan segalanya, seperti air (hingga 13 meter), debu dan suhu -10 derajat, bahkan saat dijatuhkan dari ketinggian 2 meter pun masih tidak apa-apa. Lupa menduduki kamera ini saat disimpan di saku belakang celana anda? Tak usah kuatir, kamera ini tahan tekanan dan tidak akan retak hanya karena kedudukan.
Untuk menebus semua kehebatannya, siapkan dana 3,5 jutaan rupiah. Versi lain ada WG-3 GPS yang sesuai namanya, sudah dibekali penerima GPS untuk geotagging.

Nikon Coolpix AW110 : siap menyelam sampai dalam

nikon-aw110
Nikon Coolpix AW110 punya sensor CMOS 16 MP dengan layar OLED dan lensa 28-140mm plus stabilizer VR. Selain dilengkapi GPS dan WiFi (yang mana sebuah penambahan fitur yang berguna) kamera ini juga mampu diajak menyelam sampai kedalamam 18 meter, dan tentu tahan jatuh hingga 2 meter, suhu dingin -10 derajat dan tahan debu.
Sama seperti Pentax diatas, harga Nikon ini juga di kisaran 3,5 jutaan. Bila ingin Nikon underwater yang terjangkau juga ada pilihan Nikon S31 seharga 1 jutaan yang cuma bisa menyelam hingga 4,5 meter saja.

Olympus Stylus Tough TG-830 iHS : harga dan kemampuan yang berimbang

olympus-tg-830-ihs
Untuk pilihan yang lebih terjangkau namun tak kalah mantapnya, ada Olympus Stylus Tough TG-830 iHS yang punya sensor 16 MP dengan stabilizer dan lensa 28-140mm. Kemampuan outdoornya diantaranya bisa dibawa menyelam hingga 10 meter, tahan jatuh dari ketinggian 2 meter, tahan suhu hingga -10 derajat dan tahan debu. Fitur bawaan diantaranya built-in GPS untuk geotagging. Harganya sekitar 2,8 jutaan. Untuk versi lebih terjangkau ada juga Stylus Tough TG-630 iHS 12 MP tanpa GPS, harga 2 jutaan.

Sony Cyber-shot DSC-TX30 dan TF1 : kamera-kamera outdoor yang stylish

sony-dsc-tx30
Sony Cyber-shot DSC-TX30 adalah kamera tahan air hingga 10 meter yang tertipis di dunia. Lensa Zeissnya bisa menjangkau dari 26-130mm dengan sensor 18 MP plus OIS. Layar OLED di belakang sangat lebar dan dioperasikan dengan sistem sentuh, entah apakah sistem ini efektif bila kita memakai sarung tangan. Fitur lainnya, kamera ini tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter dan tahan suhu dingin hingga -10 derajat.
sony-dsc-tf1
Sedangkan Cyber-shot TF1 dibuat untuk yang tidak perlu layar sentuh, namun tetap memiliki fitur khas kamera outdoor seperti tahan air hingga 10 meter. Sensor kamera ini pakai CCD 16 MP plus OIS, agak unik saat melihat kamera era sekarang yang masih pakai sensor CCD, maka tak heran kalau videonya hanya sampai HD 720p saja.
Harganya kedua kamera ini sekitar 2 jutaan rupiah.

Fujifilm Finepix XP60 : biasa-biasa saja

fuji-xp60
Fujifilm juga punya produk outdoor yaitu Finepix XP60, dengan sensor CMOS 16 MP plus stabilizer, lensa 28-140mm yang bukaannya relatif kecil. Ketangguhannya agak pas-pasan yaitu hanya bisa menyelam hingga 6 meter, lalu tahan jatuh dari ketinggian 1,5 meter. Kabar baiknya, kamera ini bisa memotret sampai 10 foto per detik untuk momen tak terduga.
Estimasi harga jualnya dibawah 2 juta.
Perbedaan kamera DSLR Canon dan NIKON

Perbedaan kamera DSLR Canon dan NIKON


kali ini saya akan memposting tentang model-model kamera dan ternd di tahun ini banyak yang bertanya pada saya kamera yang paling baik canon atau nikon disini sayamenjelaskan pada mereka itu terserah kalian milihnya yang mana tapi sebelum membeli sebaiknya tahu dulu mana yang paling bagus dan mempunyai kualita tinggi dan tergantung bajed kalian masing- masing walaupun saya kurang ahli disini tpi saya akan memberikan informasi dan pengalaman saya dan model-model camera buat teman- teman sekalian.. Mau ganti kamera DSLR yang mungkin sudah terasa ketinggalan jaman? Simak dulu rumor panas berikut ini, baik dari kubu Canon maupun Nikon yang kemungkinan besar akan meluncurkan kamera DSLR baru di tahun 2013. Kita tahu bahwa regenerasi rutin biasa dilakukan para produsen, dan kita juga bisa menebak produk apa saja yang dibuat tahun 2010-2011 yang akan digantikan nanti. Tidak sulit, misalnya EOS 60D atau Nikon D7000 kan sudah cukup lama, meski keduanya sangat populer sampai saat ini. 
Langsung saja, kita lihat dari kubu Canon :

Penerus EOS 60D

EOS 60D adalah kamera kelas menengah yang laku keras karena harganya yang relatif murah. Produk ini punya ciri layar LCD lipat yang sama seperti di EOS 600D/650D. Rumor yang berkembang akan hadir EOS 70D dengan sensor APS-C  24MP baru, layar lipat 3 inci yang bisa disentuh dan ISO 25.600.  Tidak ada info soal titik fokus, maka anggap saja masih tetap 9 titik dengan seluruhnya cross type.

Penerus EOS 7D

Bagi yang mengagumi ketangguhan bodi EOS 50D, maka penerus sesungguhnya dari EOS 50D adalah EOS 7D yang duduk di kelas APS-C terbaik Canon saat ini. Tak perlu banyak perbaikan, Canon kemungkinan hanya akan memberi label mark II pada EOS 7D ini. Nah, rumornya EOS 7D mark II akan memberi sensor 24 MP dan kecepatan tembak hingga 10 foto per detik, dan ISO normalnya mencapai ISO 25.600. Soal titik fokus besar kemungkinan masih sama dengan 7D.

Varian lain dari EOS 1D X

new-eos
Bagi para profesional yang memakai DSLR full frame, hadirnya EOS 1D X dengan sensor 18 MP memang sudah sangat mencukupi meski kemudian situasi jadi runyam saat ada saingan berat dari Nikon D800 dengan sensor 36 MP. Rumornya Canon tahun ini akan meluncurkan varian lain dari EOS 1D X yang bernama EOS 1D SX dengan sensor tinggi sekitar 40 MP atau lebih, mendekati teritori dari kamera medium format.

Penerus EOS M

EOS M menjadi kamera mirrorless Canon pertama yang tentu perlu beberapa perbaikan untuk bisa menyamai kamera serupa dari merk lain. Tak heran kalau Canon semestinya akan membuat EOS M2 yang paling tidak akan memperbaiki kinerja auto fokusnya yang cukup mengcewakan.
Tentang DSLR pemula Canon
Tidak ada rumor penerus EOS 1100D, sedangkan tahun 2013 ini tampaknya Canon belum akan membuat penerus EOS 650D yang masih relatif baru.
Sedangkan dari kubu Nikon :

Penerus D7000

Tentu saja logika kita akan berkata D7100 adalah nama penerus dari D7000, tapi rumornya Nikon akan melewatkan angka 100 dan langsung memberi nama Nikon D7200 sebagai penerus D7000 (mungkin supaya sama dengan D3200 dan D5200). Apapun namanya nanti, kamera penerus D7000 ini diprediksi akan memakai sensor APS-C 24MP, sedangkan hal-hal lain tidak banyak perubahan. Bila benar bedanya hanya dalam soal sensor sepertinya tidak ada alasan kuat bagi pemilik D7000 untuk upgrade, tapi kita tunggu saja..

Penerus D300s

Kepastian apakah Nikon akan membuat kelanjutan dari kamera DSLR kasta tertinggi di kelas APS-C yaitu D300s belum juga bisa dijawab. Di satu sisi D7000 sudah mencukupi untuk kebutuhan semi-pro dan untuk kualitas lebih baik Nikon ada D600. Tapi rumor yang beredar menyatakan kalau Nikon kemungkinan akan membuat penerus D300s dengan nama Nikon D9000 yang uniknya memakai sensor 16 MP saja, tapi tanpa low pass filter. Nah ini artinya D9000 akan sangat tajam dan cocok buat landscape. Aspek lain diduga akan sama seperti D300s seperti jumlah titik fokusnya tetap 51 titik.
nikon-2013-predictions

Penerus Nikon 1 V2

Nikon 1 adalah format mirrorless dari Nikon dan seri V2 adalah seri tertinggi di segmen ini. Rumornya akan hadir Nikon 1 V3 yang entah apanya lagi yang akan ditingkatkan. Rumor yang menarik di kancah Nikon 1 ini justru rencana kehadiran Nikon 1 S (Nikon 1 murah meriah) yang simpel tapi hasil fotonya lebih bagus (bila dibandingkan dengan kamera saku).
Tidak heran kalau tak ada rumor tentang penerus D3200 apalagi D5200 di segmen pemula karena keduanya masih sangat baru, demikian juga dengan D600 dan D800 di kelas hobi serius (baca : full frame).

Penerus D4

Nikon D4 menjadi flagship DSLR Nikon di kelas full frame dan sepertinya sudah tidak banyak yang bisa disempurnakan lagi. Tapi kita tunggu saja kemungkinan hadirnya Nikon D4x yang akan menambahkan resolusi sensornya sehingga bisa menyamai si adiknya yaitu D800.

Jadi tampaknya tahun ini Canon dan Nikon akan sama-sama menggebrak pasar dengan persaingan head-to-head :

baca juga:

SUMBER ILMU TERPECAYA

dunia fotografi

TEKNOLOGI 2013