Tahun 2013 menjadi tahun yang menyenangkan bagi fotografer pemula yang membeli DSLR kelas pemula atau entry-level karena banyqknya di kalangan anak muda yang ingin berfoto.
Betapa tidak, saat itu tercatat banyak produk baru yang harganya terus
membuat semua pihak tercengang, karena terus turun hingga menembus angka
psikologis (dibawah) lima juta. Seiring krisis ekonomi global di akhir
2008, harga kamera DSLR pun kembali merangkak naik. Kisaran harga DSLR
kelas pemula kini berada di kisaran 6 sampai 7 juta, sementara DSLR
kelas semi-pro kini berada di atas 10 juta. Hal ini menyebabkan mereka
yang belum sempat membeli kamera di tahun lalu menjadi kecewa, karena
asumsi harga yang terlanjur ditargetkannya bergeser satu hingga dua
juta.
Kini tak perlu lagi menyalahkan masa
lalu. Faktanya, saat ini kurs rupiah sekitar 11.000 dan harga DSLR ini
sudah stabil di kisaran sekarang. Bila memang sudah ngebet ingin segera
memiliki kamera DSLR baru, tak perlu menunggu harga turun lagi yang
entah kapan. Berikut daftar DSLR entry level yang bisa
dipertimbangkan untuk dibeli pada tahun 2009 ini. Sebagai catatan, di
daftar kali ini kami tidak memasukkan DSLR kelas upper entry level
yang salah satu cirinya bisa merekam HD movie, karena harga jualnya
terlampau tinggi untuk ukuran DSLR murah (contoh : Canon EOS 500D dan
Nikon D5000).
Inilah mereka, DSLR murah di tahun 2009, urut dari harga yang terendah :
- Sony Alpha A300 (5,7 jutaan)
- Canon EOS 1000D (5,8 jutaan)
- Pentax K-m (6 jutaan)
- Nikon D60 (6,7 jutaan)
- Olympus E-620 (7 jutaan)
Kesamaan mendasar
Faktanya, kelima kamera diatas adalah kamera DSLR
entry level.
Mereka berbagi sensor yang sama (kecuali Olympus dengan sensor agak
lebih kecil berformat 4/3), bahkan mereka memakai resolusi yang
sama-sama 10 MP (kecuali Olympus dengan 12 MP). Mereka sama-sama
dilengkapi dengan lensa kit dalam penjualannya. Soal bodi kamera juga
mereka memakai material plastik yang ringan dan kompak, menunjukkan ciri
kamera kelas pemula (DSLR kelas pro memakai bodi
magnesium alloy). Kinerja
shutter
secara umum juga sepadan, demikian juga dengan kemampuan ISOnya.
Kelimanya juga dijual dengan harga dibawah 7 juta (kelimanya tidak
memiliki fitur HD movie recording yang membuat harga DSLR jadi naik).
Singkatnya, kelimanya sama-sama baik dan berkualitas, sehingga di awal
kami sampaikan saja kalau DSLR manapun yang anda pilih pada dasarnya
akan mampu memberikan hasil foto yang baik. Belum puas? Simak lebih jauh
plus minus dari kelima kamera DSLR pemula dibawah ini.

Bahkan
Sony A200 pun dijual lebih murah lagi, paket lensa kit hanya 5 juta.
Tapi kita tidak sedang membahas A200, kita membahas A300 disini.
Sony A300 memakai sistem
stabilizer
pada bodi, layaknya Pentax dan Olympus. Sony Alpha A300 dan A350
menjadi pendobrak dunia DSLR modern dengan memberi solusi berbeda dalam
menyaisati lambatnya auto fokus dalam mode
live-view, dengan
metoda sensor terpisah. Kecepatan fokus ini tidak menjadikan harga jual
A300 lantas jadi tinggi, bahkan Sony A300 ini harganya termurah diantara
kelima kamera disini. Bisa dibilang kalau Sony menerapkan strategi
spec up, price down pada produk DSLR Alpha.
Plus
Inilah DSLR dengan kecepatan fokus tertinggi saat
live-view.
Bahkan, A300 ini punya layar LCD 2.7 inci yang bisa dilipat. O ya,
urusan kinerja, A300 juga handal. Dengan modul AF 9 titik tentu kamera
ini cocok untuk urusan jepret cepat seperti
candid.
Stabilizer
pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami efek stabilisasi. ISO
native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya tentu saja cukup
terasa. Kemampuan
shutternya standar dengan 3 fps
unlimited, dan tersedia
wireless flash commander untuk
kreatifitas fotografi dengan lampu kilat. Bahkan menurut kami plus-plus
ini semakin lengkap dengan harga jualnya yang juga wajar, bahkan
cenderung murah, cukup dengan 5,7 juta plus lensa kit 18-70mm yang
mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari.
Minus
Bila anda berharap
live-view di A300 ini cepat, memang betul adanya. Tapi sensor terpisah membuat
live-view ini tidak presisi, tidak dapat menampilkan
histogram, dan tidak bisa di-
enlarge untuk manual fokus
assist.
Sony juga masih berkutat mencari metoda tebaik untuk membuat foto JPEG
dari Alpha series ini supaya bisa menyamai hasil JPEG kamera lain. Bila
anda sering memotret JPEG, cobalah bereksperimen dengan setting JPEG
yang paling baik menurut anda.
Dukungan lensa
Pada dasarnya dukungan lensa Sony
SAL-DT dari Sony cukup lengkap dan berkualitas. Masalahnya di tanah air
mungkin stoknya belum banyak, ditambah lagi tidak banyak lensa
alternatif yang mendukung mount dari Sony. Bila anda cukup puas dengan
lensa kit DT 18-70mm, sementara optimalkan saja dulu lensa tersebut.
Bila ingin mencari lensa tele, pertimbangkan
DT 75-300mm dan untuk widenya bisa coba
DT 11-18mm.
Penerus Sony A300 di 2009
Sony sudah membuat produk pengganti A300 yang bernama
A330,
meski tidak ada perubahan signifikan dari upgrade tersebut. Oleh karena
itu selama stoknya masih ada, kami masih merekomendasikan A300 saja.

Entah mengapa waktu itu Canon meluncurkan
EOS 1000D
(Rebel Xs) disaat penjualan EOS 450D sedang bagus-bagusnya. Tapi kini
harga 450D sudah hampir sejajar dengan kamera DSLR semi-pro lawas
seperti Nikon D80 sehingga 1000D ini jadi lumayan dicari oleh para
budget-minded,
apalagi 400D kini sudah semakin sulit dicari. EOS 1000D diluncurkan
tengah tahun 2008 dengan paket lensa kit 18-55mm yang sudah dilengkapi
IS. kamera ini memakai sensor CMOS 10 MP, dengan 7 titik AF dan mampu
mencapai ISO 1600. Cukup mengejutkan saat mengetahui bahwa 1000D sudah
dilengkapi dengan
live-view, meski masih kalah mantap dari 450D. Kinerja
shutter cukup standar dengan 3 fps, dan layar LCD juga standar dengan 2,5 inci.
Plus
Live view jadi andalan 1000D, beserta segala kelebihan lain dari Canon seperti kinerja
noise reduction
yang baik dan tone yang karakternya juga baik. EOS 1000D pun bisa
dipasangkan dengan berbagai lensa EF, EF-S ataupun lensa alternatif merk
lain. Kami tempatkan 7 titik AF sebagai nilai plus kamera ini, meski
sebenarnya ini adalah
down-spec bila dibanding dengan 400D yang
punya 9 titik AF. O ya, EOS 1000D juga memakai sistem anti debu yang
serupa dengan yang dipakai di 450D.
Minus
Sebagian fotografer tidak bisa menerima kenyataan kalau ada kamera DSLR tidak dilengkapi dengan
spot metering, karena fitur ini penting untuk dipakai di kala kondisi pencahayaan amat sulit. Faktanya, 1000D tidak punya
spot metering.
Apakah ketiadaan ini membuat anda merasa keberatan atau tidak, terserah
anda. Kekurangan lainnya cukup mendasar, yaitu bodi kamera ini yang
terasa kurang nyaman karena terbalut plastik tanpa lapisan karet
layaknya 400D atau 450D.
Dukungan lensa
Tidak perlu kuatir akan dukungan lensa dari Canon. Untuk teman lensa kit, bisa dipilih lensa tele
EF-S 55-250mm dan lensa widenya bisa menjajal
EF-S 10-22mm. Bila bosan dengan lensa kit dan ingin menjajal lensa kit yang terbaik dari Canon, cobalah
EF-S 17-85mm USM.
Penerus EOS 1000D di 2009
Belum ada, setidaknya sampai tulisan ini dibuat Juli 2009 ini. Rumornya, Canon akan membuat penerus 1000D yang akan bernama
EOS 2000D dengan
fitur HD movie. Sudah bisa diprediksi, harga jual 2000D akan melonjak
jauh sehingga EOS 1000D bagaimana pun masih lebih menarik dalam hal
harga jual.

Di daftar ketiga ini kami sajikan kamera yang tergolong mungil yaitu
Pentax K-m
(K2000). Rupanya Pentax terinspirasi oleh Canon saat membuat 1000D,
karena Pentax juga mengalami hal yang sama. Produk andalannya di kelas
entry level,
K200D rupanya terlalu mahal dan membuat Pentax terpaksa meluncurkan
satu lagi produk yang lebih murah dari K200D ini. Alhasil lahirlah
Pentax K-m, dengan ciri tidak lagi memakai bodi
weather sealed, dan membuat lensa kit baru yang lebih kecil dan ringan. Pentax memakai
stabilizer pada
sensor CCD 10 MPnya, sehingga artinya semua lensa yang dipasang di bodi
Pentax akan merasakan efek stabilisasi hingga 3 stop. Versi hemat
artinya tentu ada aspek yang dikurangi, dalam hal ini jumlah titik AF
pada Pentax K-m ini hanya 5 titik saja (dibanding 11 titik pada K200D).
Tapi 5 titik ini masih lumayan karena masih fleksibel saat kamera
dipakai memotret vertikal atau horizontal. Soal ISO pun Pentax ini mampu
mencapai ISO 3200 yang cukup mengagumkan untuk kamera sekelas ini.
Inilah satu-satunya DSLR dengan tenaga 4 buah baterai AA.
Plus
Stabilizer pada bodi berarti semua lensa dapat mengalami
efek stabilisasi. ISO native juga bisa sampai ISO 3200, meski noisenya
tentu saja cukup terasa. Secara umum kinerja dan performa menyamai
K200D, bahkan
burst-nya mengalahkan K200D dengan 3.5 fps yang
mana amat baik untuk kamera semurah ini. Layar LCD pun tampak lega
dengan ukuran 2,7 inci.
Minus
Saat pesaingnya EOS 100D menyertakan fitur
live-view, Pentax K-m ini hadir tanpa fitur tersebut. Selain itu indikator titik AF tidak ditampilkan di
viewfinder
layaknya DSLR lain. Belum ada info apakah ada sistem anti debu di
Pentax K-m ini. Selain kedua hal diatas, praktis tidak ada hal negatif
yang dijumpai di kamera ini, bahkan sejujurnya kamera ini semestinya
dapat mengungguli EOS 1000D seandainya memiliki
live-view.
Dukungan lensa
Belum ada info apakah lensa kit DA-L 18-55mm ini telah memakai motor SDM atau belum. Tapi lensa Pentax terkenal akan kualitas dan harganya. Bila perlu lensa tele, bisa pertimbangkan
DA 50-200mm dan untuk widenya bisa mencoba
DA 12-24mm. Bila tidak puas dengan lensa kitnya, jajal saja lensa sapu jagad dengan rentang ekstra panjang,
DA 18-250mm. Sayangnya lensa alternatif seperti Sigma/Tamron/Tokina jarang punya stok dengan
mount KAF Pentax.

Adalah
Nikon D60, si pengganti D40 yang kini mengusung sensor CCD beresolusi 10 MP, dibekali lensa kit 18-55mm VR, fitur anti-debu,
active-D lighting
dan Expeed engine Nikon. Kamera ini mampu mencapai ISO 1600 (dan ISO
setara 3200 bila dinaikkan satu tingkat dari ISO 1600), dengan kecepatan
burst 3 fps. Modul AF memakai 3 titik AF saja, sangat
basic, namun tersedia mode
continuous servo
untuk mengunci fokus benda yang bergerak. Inilah kamera yang tidak
sarat fitur berlimpah namun tetap menjaga kualitas khas Nikon dalam
kesederhanaannya.
Plus
Apa sih yang jadi kekuatan utama dari DSLR termurah dari Nikon ini? Faktanya, anda tidak akan menemukan fitur modern seperti
live-view
di D60. Tapi mengapa masih banyak orang yang terus mengincar dan
membeli D60 ini? Bisa jadi alasannya cukup subjektif, karena yang jadi
andalan Nikon D60 pun adalah fitur yang pada dasarnya ada di semua
kamera DSLR, namun diyakini pada D60 fitur tersebut lebih baik dan
efektif. Diantaranya : metering yang handal, Auto ISO yang efektif,
noise reduction yang tepat, karakter warna / tone yang
consumer friendly, ergonomi dan tata lentak tombol yang nyaman, menu yang mudah dipahami, hingga
white balance yang
jarang meleset. Anda boleh tidak sependapat, kami katakan sekali lagi,
ini subjektif sekali. Jangan sampai ada anggapan kamera lain meteringnya
jelek, misalnya. Tapi dapat kami katakan kalau Nikon membuat setiap
kameranya dengan cermat, termasuk D60 ini yang mampu memberi hasil foto
yang baik, dan pemakai D60 dapat ikut merasakan seperti apa rasanya
memakai dan menikmati hasil foto dari DSLR Nikon. Bila anda
‘brand minded’,
dan memang meyakini kalau hasil foto dari Nikon memang mantap, pilih
saja D60 tanpa harus memperdulikan kekurangan dari D60 di bawah ini.
Minus
Ada dua hal yang menjadi kekurangan utama D60 : ketiadaan motor AF di
bodi dan jumlah titik AF yang hanya tiga titik. Sejumlah Nikon mania
mengeluhkan lensa-lensa lawasnya (Nikon AF atauNikon AF-D) tidak bisa
auto fokus di D60, sementara pecinta
candid dan
sport photography mengeluhkan titik AF yang terlalu sedikit pada D60. Awalnya kami tidak melihat ketiadaan
live-view adalah suatu kekurangan fatal, tapi mengingat kompetitor sudah ada yang memakai
live-view, bolehlah kami sebut D60 ini semestinya juga dilengkapi dengan
live-view. Buat yang senang memotret
bracketing
untuk foto HDR juga akan kecewa karena fitur yang amat standar ini
bahkan tidak dijumpai di D60. Nikon D60 pun kurang fleksibel karena
ketiadaan dukungan
wireless flash ataupun asesori resmi
battery grip.
Dukungan lensa
Tidak dipungkiri lagi, dukungan
lensa Nikon
selalu jadi alasan utama mengapa orang memilih DSLR Nikon. Betul kalau
D60 tidak bisa auto fokus di lensa Nikon lama, tapi kini jajaran lensa
Nikon AF-S baru sudah semakin banyak. Lensa kit D60 pun sudah amat baik
plus sudah ada VRnya. Bila ingin menambah lensa lagi, pertimbangkan
AF-S 55-200mm untuk telenya, dan
AF-S 12-24mm untuk widenya. Bila bosan memakai lensa kit, tersedia lensa lain pengganti lensa kit yang bagus dan terjangkau seperti
AF-S 18-135mm,
AF-S 18-105mm atau
AF-S 16-85mm, kesemuanya lensa DX. (Catatan : lensa Nikon non-DX juga bisa dipakai, meski ukurannya lebih besar dari lensa DX).
Penerus D60 di 2009 (update 30 Juli 2009)
Nikon D3000 dengan 11 titik AF dan LCD berukuran 3 inci. Baik D3000 dan D60 masih sama-sama memakai sensor CCD 10 MP, tanpa
live-view dan
burst 3 fps. Bila D3000 ini sudah tersedia di pasaran, maka D60 ini secara alami akan diskontinu.
Olympus E620 : fitur dan kinerja mendekati kamera DSLR semi-pro

Penerus E520 ini masih tergolong DSLR
entry-level,
meski sebenarnya secara fitur sudah mendekati DSLR semi-pro.
Terinspirasi dari sukses E-30, Olympus membuat kejutan dengan perubahan
radikal pada E620 dengan banyak penyempurnaan yang membuatnya mampu
bersaing dengan DSLR
entry-level lain. Tersedia paket dengan
lensa kit 14-42mm (di beberapa tempat dijual dengan paket dobel lens kit
40-150mm), dengan sensor NMOS 12 MP beraspek rasio 4 : 3 dan
crop factor 2x, maka lensa kit ini menjadi setara dengan 28-85mm. E620 telah dilengkapi layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat,
live-view, anti debu, dan
stabilizer
pada bodinya. So, meski E620 di daftar ini menjadi yang termahal (dan
terbaru), namun dengan segala kelebihan fiturnya memang layak untuk
menjadi yang terbaik di kelas DSLR pemula.
Plus
Live-view dengan
face detection, 7 titik AF (sebelumnya 3 titik AF di E520), anti debu SSWM,
stabilizer pada bodi (4 stop) sehingga lensa yang terpasang mengalami efek stabilisasi,
flash wireless untuk kreativitas lampu kilat, desain bodi tampak kokoh dan tidak murahan, layar LCD 2,7 inci yang bisa dilipat,
shadow adjustment technology, sebagian tombolnya bisa menyala dalam gelap, 4 fps
burst mode yang cepat, dan mendukung dua macam
memory card (CF dan xD).
Minus
Gambar lebih noise di ISO tinggi dibanding kompetitor (karena ukuran sensor yang lebih kecil dari APS-C), cenderung mengalami
highlight clipping, viewfinder lebih kecil dari pesaingnya, tata letak tombol tersebar di berbagai sisi bodi kamera.
Dukungan lensa
Terdapat beberapa lensa Zuiko yang berkualitas, dengan asumsi
crop factor
2x dari sensor Olympus, membuat lensa tele akan mendapat keuntungan
lebih dimana fokal 200mm bisa menjadi 400mm, misalnya. Sebagai teman
dari lensa kit, bisa dipertimbangkan Zuiko
ED 40-150mm dan untuk lensa widenya bisa memakai
ED 9-18mm.
Kesimpulan
DSLR
entry-level menjadi produk primadona mereka yang punya
anggaran terbatas ataupun mereka yang baru menerjuni dunia fotografi
digital. Dengan dana 5 sampai 7 juta, sudah bisa didapat kamera DSLR
yang cukup lengkap, berkualitas tinggi dan berkinerja lumayan dan
memiliki paket lensa kit yang memadai untuk mulai belajar memotret.
Meski ada juga DSLR
entry level yang punya harga 8 jutaan
(seperti
EOS 450D/500D, Pentax K200D atau
Nikon D5000) namun menurut
kami dengan dana 7 juta atau kurang kita sudah bisa memiliki DSLR kelas
pemula yang baik, dan dana 8 juta sebetulnya lebih baik dipakai untuk
membeli DSLR
semi-pro bodi only semisal
Nikon D80 atau Canon 40D.